
KARAKTERISTIK HIZBULLOH
Oleh: Zulfenri Rangkuti
Secara bahasa , hizb artinya : partai, fraksi, golongan. Hizbullah merupakan susunan idhofah ,hizb sebagai mudhof dan Allah sebagai mudhofun ilai, sehingga dapat diartikan dengan : fraksi, partai atau golongan dari Allah.
Jika diartikan secara terminologi Hizbulloh bisa berarti suatu Partai atau golongan yang dipilih Allah untuk mengamalkan dan memperjuangkan ajaran agamaNya.
Hizbullah dalam tulisan ini bukanlah suatu partai yang berdiri sekitar tahun 1982an di Libanon yang menamakan dirinya sebagai Hizbullah, bukan juga Laskar pahlawan kemerdekaan yaitu para santri dan kiyai dibawah komando KH Hasyim Asy’ari pada Tahun 1943-1945, Walaupun para santri dan kiyai sebenarnya telah mencerminkan karakteristiknya.
Memilih partai, atau Wadah sebagai landasan untuk mengembangkan fungsi diri, kereativitas dan inovasi itu terbilang sangat mudah, apalagi setiap partai selalu mengaku beranggaran dasar yang baik dan bercita- cita yang luhur.
Jika sekarang ada orang yang mengaku bahwa semua agama adalah sama hanya karena menganggap bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, maka semua partai lebih tepat dianggap sama karena semua partai mengaku bertujuan untuk kebaikan juga.
Tetapi setelah menjatuhkan pilihan, yang dinilai kemudian bagaimana aplikasinya secara nyata, pada tahap ini akan ada hal- hal yang mungkin berubah, seperti semangat mulai menurun, bosan, tidak menemukan kenikmatan dan sebagainya.
Atau sebaliknya mendapatkan kenikmatan yang lebih Sehingga bergeser dari niat awalnya.
Oleh sebab itu yang paling sulit sebenarnya bukan menjatuhkan pilihan ke partai apa, tetapi bagaimana agar tetap konsisten/ istiqomah dalam menjalankan aktivitas, misinya guna meraih tujuan sesuai visi awalnya.
Mengikuti dari awal mungkin akan sangat mudah, semangat menggebu, motivasi tinggi, tapi manakala diperjalanan ada rintangan tak sedikit juga yang goyah.
Dalam kajian kita kali ni , fokus kepada partai Allah, yakni wadah pengembangan diri, kreativitas dan inovasi yang berlandaskan ajaran Agama Allah dan bertujuan untuk memperjuangkan sekaligus mengamalkan ajaranNya.
Pada kenyataannya, disaat menemukan rintangan di tengah jalan ada banyak yang goyah lalu keluar dari agama Allah, membatalkan diri sebagai anggota partai Allah atau keluar dari golongan yang diridhoi Allah.
Dimasa dulu, masa pemerintahan khalifah Abu Bakar Siddiq RA, murtadin sangat banyak, hanya karena merasa bahwa Nabi yang selama ini menjadi Pelopor telah tiada lalu agama yang dibawanya mereka anggap telah selesai atau berakhir kebenarannya.
Inilah yang diseru oleh Allah di dalam QS Surat Al-Ma’idah 54
(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَا مَنُوا۟ مَن یَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ
“ Duhai orang yang beriman siapa diantaramu yang keluar dari agama Allah”
Tidak jauh berbeda dengan karakter murtadin di jaman sekarang, yaitu meninggalkan agama Allah hanya karena menganggap ajarannya kurang relevan dengan situasi dan kondisi Jaman .
Tetapi, Allah kemudian mengabarkan bahwa akan ada golongan yang menggantikan mereka, yaitu para hizbulloh yang kemudian Allah jelaskan karakteristiknya pada lanjutan Suroh Al-Ma’idah ayat 54 tadi.
فَسَوۡفَ یَأۡتِی ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ یُحِبُّهُمۡ وَیُحِبُّونَهُۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِینَ یُجَـٰهِدُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَلَا یَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَاۤىِٕمࣲۚ
maka kelak Allah datangkan suatu kaum yang dicintai Allah dan mencintai
Allah, lemah lembut kepada sesama mukmin, bersikap keras kepada orang
Kafir, bersungguh- sungguh dijalan Allah, tidak takut kepada celaan Pencela” [Surat Al-Ma’idah 54]
Mengenai suatu kaum yang dimaksudkan dalam ayat ini, ada perbedaan pendapat dikalangan periwayat hadist, ada yang menyebut bahwa kaum itu adalah Sahabat Abu Bakar RA dan sahabat lainnya, ada yang mengatakan adalah kaum dari yaman, kindah dan sukkun.
Tetapi yang menjadi fokus kita adalah karakteristiknya, agar dapat kita contoh, sehingga kita layak untuk mendaftarkan diri sebagai Hizbullah.
Allah menyebutkan :
- Dicintai dan mencintai Allah
- Lemah lembut kepada sesama mukmin
- Bersikap keras kepada orang kafir
- Berjihad/ sungguh- sungguh di jalan Allah
- Tidak takut celaan
Untuk menerangkan ini, kita langsung merujuk ke Tafsir Al-Qur’anil ‘Azim karya Imam Ibnu Katsir (w 774 H) yang menuliskan sebuah hadist dari Imam Ahmad, Abi Tzar berkata: Kekasihku Muhammad SAW menyuruhku melakukan 7 hal :
- Mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka
- Melihat yang lebih rendah dan tidak melihat yang diatas
- Terus menyambung silaturrahim, meskipun selalu dibelakangi ( tidak dihiraukan)
- Tidak meminta-minta kepada siapa pun
- Menyampaikan kebenaran meskipun pahit
- Jangan takut dicela dalam dakwah/ jihad di jalan Allah
- Selalu menyebut “ tiada daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah”.
Dipenghujung ayat Allah tegaskan bahwa orang – orang yang memliki karakteristik diatas adalah orang yang diberikanNya karunia, atau kita bisa sebut orang yang Allah izinkan masuk ke dalam hizibNya
ذَ ٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰسِعٌ عَلِیمٌ
Mencintai orang miskin akan menghidupkan rasa empati, yang kemudian mendorong diri untuk berinovasi dan lebih kreatif memikirkan bagaimana cara untuk menolong mereka yang lebih miskin , sehingga wajar saja Allah mencintai orang yang seperti itu.
Selain itu, berteman dengan orang miskin akan membuat hati semakin bersyukur kepada Allah, lebih bersemangat dan tidak mudah putus asa.
Berikutnya, melihat yang lebih rendah dan tidak melihat yang diatas, artinya, lebih banyak memperhatikan mereka yang serba kekurangan agar tumbuh rasa simpati, bukan justru melihat mereka yang lebih kaya sehingga yang tumbuh adalah sikap menghamba.
Tidak meminta-minta kepada siapapun termasuk buah dari tidak gemarnya melihat ke atas, ke yang lebih kaya dan lebih tinggi jabatannya, ia juga dapat membentuk pribadi yang mandiri, berintegritas dan berani. Sehingga dapat mengamalkan poin berikutnya yakni Berani mengutarakan kebenaran meskipun pahit yang ia rasakan.
Menyampaikan kebenaran kepada mereka yang lebih kaya dan lebih tinggi jabatannya sangat beresiko, bisa jadi mereka tidak mau mendengar atau bahkan berujung kepada cacian dan tekanan.
Begitu yang dialami oleh Rosul SAW saat menyampaikan kebenaran kepada kaum Quraisy, mereka tidak mau menerima dakwah Nabi bukan karena materi dakwahnya yang tidak benar, melainkan karena mereka merasa lebih tua, lebih berpengalaman, lebih kaya dan lebih tinggi status sosialnya kala itu, lalu beralasan bahwa dakwah Nabi adalah Sihir semata. Begini penjelasan Sayyid Muhammad Showi dalam menafsirkan QS Saba’ ayat 44-45.
Tetapi kemudian bagi orang yang termasuk dalam Hizbullah tidak akan gentar dengan cacian dan tekanan tersebut, rintangan dan tantangan ditengah jalan tidak akan dapat menghentikannya melaju di jalan Allah, apalagi dia punya pegangan bahwa “ La Haula wala quwwata Illa Billah” daya dan upaya hanyalah berdasarkan kehendak dan kuasa Allah.
Lebih lanjut Allah berfirman pada ayat ke 55-56 Surat Al-Ma’idah
(إِنَّمَا وَلِیُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِینَ یُقِیمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمۡ رَ ٰكِعُونَ). (وَمَن یَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَـٰلِبُونَ)
Sesungguhnya penguasamu adalah Allah dan RosulNya dan orang yang beriman yang mendirikan Sholat dan membayar zakar yang mereka tunduk ( kepada Allah)”, dan siapa yang berpaling dari Allah dan RosulNya dan orang beriman maka sesungguhnya Hibulloh yang akan menjadi pemenang”.
Mengenai Hizbullah dengan karakter tegas kepada orang kafir, kita bisa lihat firman Allah dalam Suroh Al-Mujadilah ayat 22
(لَّا تَجِدُ قَوۡمࣰا یُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ یُوَاۤدُّونَ مَنۡ حَاۤدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوۤا۟ ءَابَاۤءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَاۤءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَ ٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِیرَتَهُمۡۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ كَتَبَ فِی قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِیمَـٰنَ وَأَیَّدَهُم بِرُوحࣲ مِّنۡهُۖ وَیُدۡخِلُهُمۡ جَنَّـٰتࣲ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ خَـٰلِدِینَ فِیهَاۚ رَضِیَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا۟ عَنۡهُۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَاۤ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ)
enggkau tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman dengan Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang- orang yang menentang Allah dan RosulNya, sekalipun itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya, merekalah yang telah Allah tanamkan keimanan dan mereka dikuatkan dengan Keimanan itu, mereka dimasukkan ke dalam surga yang mengalir sungai di bawahnya berada disana selamanya, Allah meridhoinya dan mereka pun puas dengan Rahmatnya, merekalah golongan Allah, dan sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.
