
HADIAH PRESTASI
Oleh: Zulfenri Rangkuti
Imam Az- Zarkasy ( W 794 H ) dalam Al-Burhan Fi Ulumil Quran-nya ,1, 463 menuliskan bahwa membaca dari hafalan lebih afdhol daripada membaca dengan melihat Mushaf. Pendapat ini yang diamalkan oleh Abu Muhammad Ibnu Abdissalam karena menurut beliau cara itu lebih dapat mentadabburi sesuatu yang tidak beliau dapatkan dengan cara melihat mushaf.
Imam Az- Zarkasy kemudian mengutib penjelasan Imam Nawawi dari kitab al-Azkarnya : Jika membaca dengan tanpa melihat mushaf menghasilkan perenungan, tafakkur dan khusu‟ maka itu lebih baik dari membaca dengan melihat mushafnya, tetapi jika sama saja, melihat atau dengan tidak melihat tetap dapat menghasilkan perenungan, tafakkur dan khusu‟ maka membaca dengan melihat mushaf lebih afdhol.
Pendapat di atas yang kemudian dijadikan oleh salah seorang santri Pesantren Modern Nurul Hakim Tembung bagian Ash-Habil Qur’an untuk menghafal Al-Qur’an, disela- sela aktivitas yang padat, Niat kuatnya dapat memotivasi dirinya untuk tetap menyelami nikmatnya membaca dan menghafal Al-Qur’an, ia adalah Anshor Hasibuan.
Anshor, layaknya santri yang lain, tetap mengikuti berbagai kegiatan yang menjadi unggulan di pesantren, kegiatan keagamaan, keorganisasian, sosial, kreatifitas dan lainnya. Buktinya baru beberapa hari Anshor menerima hadiah sertifikat, piala dan uang pembinaan dari hasil prestasi sebagai juara III cabang Tahfizd se Kota Medan/Kabupaten Deli Serdang pada Musabaqoh Hifzil Qur’an dalam memperingati Hari Santri Nasional ke VI, 22 Oktober 2021, ia kemudian mengikuti kegiatan Peringatan Hari Santri di pesantren, dalam acara teater/ drama dan ia tampil sangat profesional memainkan peranan sebagai wartawan, aktingnya layak diacungi jempol.
Sebelumnya, Anshor telah pernah mengikuti kegiatan lomba di bidang Tahfizd yang ia maksudkan untuk mengukur kemampuannya dalam membaca Alquran tetapi ia belum mendapatkan hasil yang memuaskan, ia mengakui kelemahannya bukan soal menghafalnya akan tetapi bagaimana cara bacanya.
Sudah familiar bagi kita, banyak yang berharap dapat menghafal Alquran, tetapi bagi sebagian orang adakalanya terlalu bersemangat untuk naik ke tahap mengahafal padahal membaca dengan praktek tajwidnya belum dikuasai.
Kita mengakui bahwa Imam An-Nasai ( W 303 H) dalam Fadhoilul Qurannya hal 108, menuliskan Hadist Nabi SAW Dari ‘Aisyah RA beliau Berkata : Rosulullah bersabda : orang yang berketerampilan dalam membaca Al-Quran akan beserta Malaikat Pencatat yang mulia, sedangkan yang masih terbata-bata bahkan ragu-ragu dia tetap dapat dua pahala.
Benar, bahwa yang masih terbata-bata akan mendapat dua pahala, akan tetapi alangkah lebih bagusnya jika untuk memasuki tahap mengahafal setidaknya sudah bisa membaca Alquran dengan lancar sesuai Tajwidnya.
Inilah yang disadari oleh Anshor, sehingga ia kemudian lebih antusias untuk mentasmi’kan ( membaca hafalan di hadapan pembimbing) hafalan Al-Qur’annya.
Dan Alhamdulillah, meskipun belum 100% , tetapi Anshor telah terbukti meraih prestasi.
Perestasi bukan suatu tujuan, apalagi untuk hadiah yang didapatkan, ia hanya motivasi untuk lebih giat lagi ke depan, karena sesungguhnya hadiah utama telah Allah siapkan Sebagaimana Syeikh As-Subki ( W 1352 H), menjelaskan maksud dari salah satu hadist Nabi, Yaitu : semakin banyak yang dihafalkan maka akan semakin tinggi derajat di dalam surga.
