
120 Tahun
Oleh: Zulfenri Rangkuti
Ada tiga jenis manusia yang kita temukan secara tersirat di dalam firman Allah SWT QS Fathir ayat 5 :
“ Janganlah kehidupan dunia melalaikanmu dan janganlah syeitan melalaikanmu dari Allah”
Syeikh Fakhruddin Arrozi ( W 606 H) dalam karyanya Tafsir Alkabir ( tafsir Arrozi) menguraikannya, bahwa ada jenis manusia yang cara berfikirnya terbelakang, biasa disebut keterbelakangan intelektual, kurang dapat memanfaatkan kemampuan dalam memandang masa depan, minim visi, lemah dalam pertimbangan atau bahasa kasarnya orang bodoh, jenis ini akan sangat mudah tergoda oleh rayuan manis duniawi, jatuh ke dalam lembah kelezatan sementara, harta dan tahta.
Bukan tidak disediakan fasilitas alat fikir kepada mereka, ada otak ada akal, bahkan secara fisik terlihat begitu sempurna, tetapi mereka malas memanfaatkan fasilitas itu, lebih memilih untuk merasakan nikmatnya duniawi daripada harus sibuk berfikir hal-hal yang menurutnya belum pasti.
Imam Arrozi menyebutkan bahwa perintah Allah agar jangan lalai karena dunia tertuju kepada manusia jenis ini.
Lalu, jenis kedua adalah mereka yang sedikit lebih baik kualitas fikirnya diatas jenis pertama, visioner, terdepan secara intelektual, pintar tetapi lemah secara spiritual, Mereka yakin dengan suatu masa yang jauh kedepan, Kuat perhitungan, tidak suka melakukan tindakan yang berpotensi merugikannya di masa depan, bahkan percaya akan saat setelah dunia selesai yakni akhirat, hanya saja dalam hal spritual benar-benar lemah, mereka yang kemudian dipesankan Oleh Allah pada kalimat kedua QS Fathir ayat 5 tadi “ janganlah syeitan melalaikanmu dari Allah “
mereka yang terdepan secara intelektual setelah terlepas dari godaan nikmatnya dunia berikutnya akan ada godaan lain yang datang yaitu syeitan.
Kata “Gurur” pada kata kedua dalam ayat itu memang ditafsirkan para mufassir dengan “ syeitan”.
Kemudian, jenis ketiga adalah manusia yang terdepan secara intelektual sekaligus spritual, merekalah yang dapat melepaskan diri dari jeratan manisnya duniawi sekaligus keluar dari ruang belenggu syeitan.
Sebelum Islam datang, dua suku besar aus dan khozroj di Madinah telah lama bermusuhan, gemar perang, 120 tahun lamanya, padahal mereka satu keturunan yang sama, karna harta, tahta maka nasab dilupakan, permusuhan dirawat.
Menurut Philip K Hitti dalam karyanya History of the Arab, perang dan permusuhan itu terjadi akibat tidak adanya otoritas hukum di tengah- tengah Mereka, bukan karena terbelakang secara intelektual atau yang sering disebut jahil.
Pendapat tersebut sedikit kita akui Kebenarannya, Karena jika tidak ada peraturan yang menguasai, maka ketertiban akan sulit dicapai, persatuan sulit digapai, tetapi kemudian kita juga sedikit tidak sepakat, karena faktanya, meskipun telah ada otoritas hukum ditengah-tengah suatu kaum, ada saja peraturan yang dilanggar dan permusuhan terjadi pada mereka.
Oleh karenanya, kita mengacu kembali kepada keterangan imam Arrozi bahwa jenis manusia yang akan bisa lepas dari godaan dunia dan syeitan adalah mereka yang baik secara intelektual dan spiritual. Bahasa kitanya, yaitu berpendidikan dan berakhlak mulia
Tidak ada cara lain untuk membersihkan permusuhan yang telah berkarat itu kecuali dengan kekuatan spiritual, inilah kemudian yang disebarkan oleh Nabi SAW.
Pertama, Nabi SAW merasuki pola fikir mereka, masuk lewat argumentasi cerdas yang menyebutkan bahwa tujuan hidup tidak hanya kenikmatan dunia belaka, tidak hanya harta tahta saja, melainkan ada kehidupan yang paling nyata setelah dunia yaitu Kenikmatan Akhirat.
Berikutnya, untuk menggapai itu haruslah mendapat persetujuan dari yang menyediakannya yaitu Allah SWT, oleh sebab itu tujuan kita hanyalah untuk mendapat ridhoNya.
Nabi SAW menyatukan suatu tujuan yang harus dicapai secara bersama-sama, sehingga langkah ini akan menyadarkan mereka bahwa tindakan yang selama ini mereka lakukan adalah salah, karena tujuan mereka salah, dan salah juga cara menggapainya.
Seharusnya, Ridho Allah yang harus dicapai, dan dilakukan secara bersama-sama, tidak harus dengan harta, tidak juga dengan tahta.
Inilah yang dituju oleh Firman Allah SWT QS Ali Imran-103
“ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara….”
Azzajjaj menyebutkan, pada dasarnya ma’na “akhun” adalah “ attawakhhi” yaitu saling mengarahkan, yakni saudara itu adalah yang memiliki tujuan yang sama persis seperti tujuan saudaranya. Sehingga mereka bisa bersama-sama saling mengarahkan untuk mencapainya.
Ibarat kata “ kita bersaudara, tujuan kita sama, ayo kita raih bersama-sama yaitu ridho Allah SWT, bukan dunia, harta dan tahta.
Akhirnya setelah 120 tahun, permusuhan itu hilang, keretakan itu menyatu kembali, aus dan khozroj bersatu lagi, hidup dengan damai.
